saya pernah mencoba berkomunikasi dengan hati saya, begini kira-kira percakapan kami.
Hei, aku aku sedang berbicara padamu?
Kau mendengarku?
Oh, baiklah..
Apa kamu tidak lelah menjadi yang tak terlihat?
Aku lelah Apa kamu tidak lelah berfikir tanpa realisasi tubuh?
Aku lelah Apa kamu senang?
Tidak
Apa kamu menerima jasadmu untuk kamu?
Tidak Apa yang kamu miliki?
Aku tidak tahu
Hemm.. jiwa, apa kamu terlalu tua atu muda untuk jasadmu
Tua
Mengapa?
Aku terlalu banyak berfikir
Mengapa?
Jasadku pembuat masalah
Kok bisa?
Seenaknya sendiri
Kamu menyalahkanya?
Tidak
Kenapa?
Aku yang memerintahkannya melalui hati dan otak
Siapa hati?
Sahabatku Apa dia baik?
Kadang-kadang
Kok bisa?
Dia tidak konsisten
Dalam hal apa?
Banyak hal Apa hati itu jujur?
Sangat jujur
Lalu kenapa terkadang ia tidak baik?
Aku memaksa
Untuk apa memaksa?
Untuk ego
Siapa ego?
Aku yang ingin ini, ingin itu
Kamu ini sedang bebicara dengan siapa?
Dengan jiwa
Jiwa yang mana?
Jiwa yang murni
Masih mau lanjut?
Silahkan
Kamu suka dengan hidup jasadmu?
Tidak
Mengapa?
Banyak maunya
Lalu?
Aku berusaha mengendalikan
Caranya?
Dengan hati Lagi-lagi hati ya?
Bagaimana dengan pikiran?
Ah.. dia kotor
Maksudmu?
Terkadang licik
Bagaimana bisa?
Menipu hati
Mengapa ia menipu?
Pikiran ada di atas, didalam kepala.. hati dibawahnya di bawah dada, dekat perut.. ia suka memerintah Kapan kamu akan mati?
Tidak akan pernah
Mengapa?
Aku kekal Kok bisa?
Diciptakan begitu Bagaimana jika jasadmu mati?
Aku yang akan bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan jasad
Kamu takut ya?
Tidak Mengapa?
Jiwa selalu diampuni Kok bisa?
Jiwa jujur Sudah aku lelah, sampai jumpa
setelah dibaca ulang, bukan hati sepertinya yang saya ajak bicara, tapi bagian lain dari saya.
nah kan... pemilik hati saja sulit untuk bebicara dengan yang terhormat hati nurani.
sepertinya percakapan diatas, adalah dengan jubir hati nurani saja...
tak apalah, kapan hari akan saya coba lagi,
Semoga berkenan
INTAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar