Garuda
Indonesia, gagah dan berani memecah kebiruan langit
Seorang
anak kecil yang telah bertumbuh dewasa, apakah anda tahu bahwa seorang anak
kecil akan memiliki memori yang luar biasa terhadap apa yang dia alami dulu?
Sangat
kuat dan membekas.
Begitu
pula memori seorang anak dengan Garuda Indonesia, suatu pengalaman luar biasa
bersama Garuda Indonesia menempati sebuah ruang kecil di dalam tumpukan memori
dewasa anak itu.
Seorang
Ibu memasangkan dan menarik kencang sabuk untuk mengamankan anaknya, memastikan
berulang. Hingga yakin.
Dipastikan
kencang, karena betul cinta Ibu luar biasa.
Sesosok
manis dengan senyum simpul, menawarkan makanan kecil manis kepada seorang anak
kecil, yang hafal betul nama makanan itu adalah Permen. Anak itu senang, permen kacang manis yang dia
dapat, tapi masih ada satu lagi di genggaman kecilnya, dia simpan dan
rahasiakan.
Nampan
besar, dua nampan kotak kecil, lalu tissue, pisau dan tusuk gigi disatukan
dalam sebuah kantong plastik kecil berwarna biru, irisan buah-buahan tersusun
rapi, disebelah nampan kecil berisi lima potong siomay dan minuman jeruk dengan
ukuran gelas yang tidak sama seperti kemasan gelas air mineral pada umumnya.
Jakarta
Sebuah
kota yang sangat besar sepertinya.
Dalam
pikiran anak itu hanya, kota dimana si Doel berada, Agnes monica bersekolah dan
Krisdayanti tinggal.
Sesederhana
itu, namun kecewa pula, karena yang ditemuinya hanyalah monas dan kebun
binatang ragunan.
Monas,
tinggi menjulang. Sakit leher anak itu melihat ujung dari menara kebanggaan
masyarakat Jakarta dan Indonesia itu. Kemegahan
nya sungguh luar biasa memang, patut dibanggakan, dan tidaklah heran membuat
orang pun penasaran.
Tak
beda dengan kebun binatang ragunan, saat anak kecil itu berkunjung dengan suka
cita diapun sedikit kecewa karena kebun itu sepi binatang ramai manusia, itu
kebun manusia dalam pikirnya.
Entah
sekarang bagaimana? Jakarta penuh dengan segala kemegahan, lampu
berwarna-warni, café dan tempat nongkrong bertebaran dengan musik akustik sebagai
bumbu penyedap tambahan atau seperti apa yang kita saksikan selama ini di televisi?
Jakarta penuh dengan pesona, siapa suruh datang Jakarta? Pemerintah.
Pergi
terang pulang gelap, hanya itu yang ada dalam pikiran sang anak tentang
Jakarta. Dan.. sepertinya dia benar. Sebagian besar orang yang beraktivitas di
Jakarta hanya akan tersadar dalam terang (Pagi) dan gelap (Malam), diantara
keduanya? Terkurung dalam sebuah benak ingin keluar tapi tak bisa, ingin
melihat yang lain, namun jari dan kepala dipaksa bekerja di satu tempat. Jakarta.
Belum lagi beton-beton baru yang siap ditancapkan dalam dan lebih dalam lagi di Jakarta, bagaimana megahnya bangunan buatan manusia modern, setiap akhir pekan selalu berlomba untuk meyakinkan adanya perebutan antar manusia kaya dengan manusia kaya lain, 24 jam lagi harga naik. Kaya.
Itulah
sebagian memori anak kecil tentang Garuda Indonesia dan Jakarta. Dua hal yang
berkesan saat dia kecil. Dan belum bisa ia rasakan lagi ketika ia dewasa.
Anak
kecil itu kini telah dewasa, dalam benaknya masih banyak pertanyaan. Seperti Bagaimana
Garuda Indonesia saat ini, mengapa saat di bandara lokasi ruang tunggunya
dibedakan dengan yang lain, mengapa pilot dan pramugrinya begitu mempesona?
Bagaimana
dengan bagian dalam Garuda Indonesia? Masih baik kah? Apakah di dalam kabin
Garuda Indonesia benar ada musik yang dimainkan?
Lalu,
bagaimana dengan nampan dan segala isinya, apakah masih sama dengan apa yang
tergambar dalam kepala anak kecil itu?
Begitu
banyak pertanyaan, akankah terjawab? Kesempatan yang akan diberikan, akan
mejawab pertanyaan anak kecil itu. Yang sekarang telah dewasa, namun belum
berkemampuan dan berkesempatan kembali terbang bersama Garuda Indonesia. Dan dia
adalah, Saya.
Saya,
pengaggum karya-karya Pandji. Tapi tidak terlalu konsumtif terhadap karyanya. Dan
pandji memberikan pilihan karya yang dapat dinikmati tanpa harus membayar, itu
kegemaran saya. Terima Kasih Pandji.
Stand-up
comedy bukan suatu hal yang baru buat saya, beberapa tahun yang lalu saya
sempat tergila-gila dengan Stand-Up Comedy. Dan Pandji salah satu orang yang
saya suka, gaya dan bahan sungguh luar biasa.
Dari
Pandji juga saya belajar untuk melihat segala sesuatu dengan cermat, membenarkan
yang salah semampu saya dengan canda, dan mengolah candaan itu dengan cepat dan
peka.
Messake
bangsaku secara jujur saya akui, hanya saya nikmati dari tanyangan Kompas Tv *lagi-lagi
gratis*
Namun, messake bangsaku adalah suatu atau mungkin
satu-satunya acara televisi yang saat ada jadwal penanyangannya muncul, saya
catat, jam, tanggal, saluran tv apa? dan saya membuat suatu alarm pengingat
untuk menyaksikan nya, di telefon genggam saya.
Percayalah.. acara ini sunggu special bagi saya. Sesuatu.
Tertawa
saat menyaksikan stand-up comedy adalah suatu hal biasa, namun Pandji berhasil membuat
saya berfikir, membenarkan opini saya yang salah terhadap sesuatu sebelumnya,
dan membuat saya menangis.
Bagian
akhir messake bangsaku, Pandji membuat hati saya bergetar, seraya berdoa. Saya akan
berada di posisi Pandji suatu saat nanti dengan laga dan tempat yang berbeda. Mungkin.
SALAM
INTAN
RAHAYU UTAMI
*saya
tidak memiliki satupun foto seperti yang diminta, karena pada masa itu belum
musim selfie dan tongsis. Heehee…

